Perkembangan telekomunikasi saat ini merupakan salah satu sektor yang mengalami eskalasi cukup monumental (booming) selama 15 tahun terakhir dalam menopang mobilitas ekonomi sosial masyarakat.
Ini terlihat bukan saja dari jumlah pengguna jasa telekomunikasi namun juga dari pertumbuhan operator jasa telekomunikasi yang turut meningkat dan beragam.
"Semua operator mengklaim tarif termurah dan memiliki layanan terbaik. Namun, dampaknya muncul strategi merebut pasar melalui pemasaran yang kurang sehat dan cenderung berbau manipulasi. Perang tarif antar operator telekomunikasi itu kurang mendidik, karena sama sekali mengabaikan informasi yang edukatif," tegas Direktur Lembaga Advokasi dan Perlindungan Konsumen (LAPK) Farid Wajdi SH MHum, kemarin, menanggapi promosi berlebihan yang dilakukan berbagai operator seluler yang mengklaim sebagai operator seluler menyediakan tarif termurah.
Memang, lanjut Dekan FH UMSU ini, untuk itulah iklan dibuat untuk membentuk persepsi terhadap sesuatu, sesuai dengan keiinginan si pembuat iklan. Ilustrasi, bahasa, bahkan warna, jenis huruf dan media yang digunakan pun harus disesuaikan dengan tujuan.
Iklan, sesuai fungsinya, antara lain memang untuk mendongkrak penjualan serta menaikkan image produk atau perusahaan. Fungsi ini dimanfaatkan oleh para operator selular, seperti iklan yang terlihat saat ini. Ketatnya persaingan di antara operator selular membuat iklan yang ditampilkan cenderung saling berbalas.
Ketika satu operator mengeluarkan iklan layanan data yang mobile, operator lain membalas dengan iklan bergambar mobil tanpa roda. Kondisi saling berbalas ini sesungguhnya telah berlangsung cukup lama. Namun, belakangan ini ketatnya persaingan kian terlihat. Hampir semua pesan yang disampaikan pada iklan-iklan operator selular isinya seragam, tentang tarif. Hanya segelintir provider yang terdengar masih rajin mengeluarkan iklan tentang fitur-fiturnya.
Perang Tarif
Perang tarif ini sesungguhnya bisa dimaklumi bila melihat kecenderungan pengguna ponsel di Indonesia yang masih sangat peduli denga harga. Pengembangan segmentasi pasar selular dari high end ke low end mau tak mau harus diikuti oleh operator selular. Kecenderungan inilah yang mendasari operator selular meluncurkan strategi pemasaran yang tergambar dalam iklan-iklan yang mereka terbitkan.
Gencarnya kampanye tarif murah yang dilakukan oleh operator harus disikapi dengan hati-hati oleh konsumen. Sebab tidak semua fitur yang ditawarkan sesuai dengan yang dibutuhkan oleh pelanggan. Atau sebaliknya, hanya melihat tarif saja, tanpa melihat benar-benar produk dan isinya, dan belakangan menyadari pilihannya ternyata tak sesuai yang dipersepsikannya
Karena itu, iklan di industri selular harusnya didampingi dengan iklan edukasi. Iklan edukasi biasanya berbentuk semi advertorial. Teks menjadi bagian yang sangat penting untuk menyajikan informasi yang dianggap perlu.
Namun, visual harus tetap diperhatikan untuk daya pikat agar dilihat oleh pembaca. Selain soal iklan itu, masih ada lagi masalah jaminan kerahasiaan pelanggan pascaregistrasi. Manipulasi SMS berhadiah, dan lain-lain.
0 komentar:
Posting Komentar